PSAK No. 19 (Revisi 2009)—Aset Tidak Berwujud

PSAK No. 19 merupakan standar akuntansi keuangan yang diadopsi dari IAS No. 38 tentang Pengakuan Aset Tidak Berwujud atau Intangible Assets.

Aktiva tidak berwujud adalah aktiva non moneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik, serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lain atau tujuan administratif. Salah satunya adalah Goodwill atau yang sering disebut dengan ‘nama baik’. Penyajian aktiva tak berwujud merupakan hal yang tidak bisa diukur dengan pasti dalam penyajiannya di neraca.

GAAP mendefinisikan goodwill sebagai kelebihan biaya investasi terhadap nilai wajar aktiva yang diterima. Secara teoritis, goodwill adalah ukuran nilai sekarang (present value) dari kelebihan laba masa depan yang diproyeksikan dari perusahaan yang bergabung terhadap laba normal perusahaan sejenis. Pengestimasian ini membutuhkan spekulasi yang dapat dipertimbangkan. Pasalnya, jumlah yang umumnya dikapitalisasi sebagai goodwill adalah bagian harga beli yang tersisa setelah semua aktiva berwujud dan tidak berwujud yang dapat diidentifikasi lainnya serta kewajiban yang telah dinilai. Kesalahan dalam menilai aktiva-aktiva lain akan mempengaruhi jumlah yang dikapitalisasi sebagai goodwill.

Sementara dalam IFRS 3 (2008), goodwill didefinisi sebagai, “aset yang merepresentasikan manfaat ekonomi masa depan yang berasal dari asset lainnya yang diakuisisi dalam penggabungan usaha yang tidak dapat diidentifikasi secara individual dan diakui secara terpisah.”

Pada paragraf 32 dinyatakan bahwa entitas pengakuisisi (acquirer) harus mengakui goodwill pada tanggal akuisisi yang diukur sebagai selisih lebih dari (a) dan (b), yakni:

(a)      Agregat dari:

Konsiderasi yang diserahkan, yang pengukurannya diatur dalam IFRS 3 (2008), yang secara umum mengharuskan digunakannya nilai wajar pada tanggal akuisisi. Jumlah kepentingan bukan pengendali (non-controlling interest) dalam usaha yang diakuisisi (acquiree), yang pengukurannya diatur dalam IFRS 3 (2008).

Nilai wajar pada tanggal akuisisi dari kepentingan ekuitas dalam usaha yang diakuisisi (acquiree) yang sebelumnya sudah dimiliki oleh entitas pengakuisisi (acquirer), jika penggabungan usaha ditempuh secara bertahap.

  1. a.      Investasi dalam Akuisisi Bertahap

Investor memperoleh kemampuan untuk pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan operasi dan keuangan perusahaan investee melalui serangkaian akuisisi saham, bukan melalui satu pembelian. Sebagai contoh, investor dapat memperoleh 10% kepemilikan dalam investee dan kemudian memperoleh 10% kepemilikan lagi. Perolehan awal atas 10% kepemilikan diperhitungkan dengan metode nilai wajar/biaya sampai 20% kepemilikan diperoleh. Kemudian digunakan metode ekuitas dan akun investasi serta laba ditahan disesuaikan secara retroaktif.

Asumsi bahwa PT Melaut memperoleh 10% kepemilikan dalam PT Mutiara seharga Rp750.000.000,00 pada 2 Januari 2006 dan 10% kepemilikan lainnya seharga Rp850.000.000,00 pada Januari 2010. Ekuitas pemegang saham PT Mutiara pada akuisisi tersebut adalah sebagai berikut (dalam ribuan):

2 Januari 2006 2 Januari 2007
Modal saham Rp5.000.000 Rp5.000.000
Laba ditahan Rp2.000.000 Rp2.500.000
    Total ekuitas pemegang saham Rp7.000.000 Rp7.500.000

PT Melaut tidak dapat mengaitkan kelebihan biaya investasi terhadap nilai buku yang diperoleh dengan aktiva bersih yang dapat diidentifikasi. Karenanya, biaya terhadap nilai buku dari setiap akuisisi dianggap sebagai goodwill.

Pada Januari 2010 ketika 10% kepemilikan yang kedua diperoleh, PT Melaut menggunakan akuntansi metode ekuitas untuk kepemilikan sebesar 20% tersebut. Hal ini memerlukan perubahan nilai tercatat atas 10% kepemilikan yang pertama dari biaya sebesar Rp750.000.000,00 menjadi nilai tercatatnya yang benar atas dasar metode ekuitas. Ayat jurnal untuk menyesuaikan akun investasi PT Melaut adalah sebagai berikut (dalam ribuan):

2 Januari 2010

         Investasi dalam PT Mutiara(+A)                 Rp50.000

                     Laba ditahan (+SE)                                                  Rp50.000

Untuk menyesuaikan akun Investasi dalam PT Mutiara dari dasar biaya menjadi ekuitas sebagai berikut:

Bagian laba ditahan PT Mutiara meningkat selama tahun 2009 sebesar Rp50.000.000,00 (Rp500.000.000,00 x 10% kepemilikan yang dimiliki selama tahun tersebut) sama dengan penyesuaian retroaktif dari perubahan akuntansi sebesar Rp50.000.000,00.

Kenaikan laba ditahan PT Mutiara sebesar Rp500.000.000,00 untuk tahun 2009 merupakan laba dikurangi dividen untuk tahun 2009. PT Melaut melaporkan bagiannya atas dividen yang diterima dari PT Mutiara sebagai laba menurut biaya. Oleh karena itu, laba PT Melaut untuk tahun 2009 menurut metode ekuitas sebagai lebih besar 10% dari kenaikan laba ditahan PT Mutiara untuk tahun 2009.

Perubahan metode akuntansi biaya, ekuitas, dan konsolidasi untuk perusahaan anak serta investasi telah mengubah entitas pelaporan yang memerlukan penyajian kembali laporan keuangan periode sebelumnya, jika bersifat material.

(b)     Jumlah neto pada tanggal akuisisi dari aset yang dapat diidentifikasi (identifiable assets) dalam akuisisi dan kewajiban (liability) yang ditanggung, yang pengukurannya diatur dalam IFRS 3 (2008).

Jika penggabungan usaha hanya dilaksanakan dengan pertukaran ekuitas antara entitas pengakuisisi (acquirer) dengan usaha yang diakuisisi (acquiree), atau dengan para pemilik lama dari usaha yang diakuisisi (acquiree), nilai wajar pada tanggal akuisisi dari kepentingan ekuitas usaha yang diakuisisi (acquiree) mungkin dapat diukur lebih andal (reliable) dibandingkan nilai wajar pada tanggal akuisisi dari kepentingan ekuitas entitas pengakuisisi (acquirer). Jika memang demikian, entitas pengakuisisi (acquirer) harus menentukan jumlah goodwill dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal akuisisi dari kepentingan ekuitas usaha yang diakuisisi (acquiree), bukan nilai wajar pada tanggal akuisisi dari kepentingan ekuitas yang diserahkan.

Untuk menentukan jumlah goodwill dalam penggabungan usaha tanpa adanya konsiderasi yang diserahkan, entitas pengakuisisi (acquirer) harus menggunakan nilai wajar pada tanggal akuisisi dari kepentingan ekuitas-entitas pengakuisisi (acquirer) dalam usaha yang diakuisisi (acquiree) dengan menggunakan suatu teknik penilaian sebagai pengganti nilai wajar pada tanggal akuisisi dari konsiderasi yang diserahkan.

IFRS yang mensyaratkan suatu perusahaan untuk menaati setiap standar efektif pada tanggal pelaporan atas laporan keuangan yang pertama sesuai dengan IFRS. Dengan memastikan perkecualian (exception) dan pengecualian (exemption) tertentu, IFRS harus diterapkan secara retrospektif. Oleh karenanya, jumlah komparatif termasuk neraca awal untuk periode komparatif, harusnya dinilai ulang dari prinsip akuntansi yang berlaku umum (generally accepted accounting principles-GAAP) ke IFRS.

Neraca IFRS awal pada tanggal transaksi seharusnya mengakui semua aktiva dan kewajiban yang pengakuannya diwajibkan oleh IFRS, tetapi tidak mengakui semua aktiva dan kewajiban yang pengakuannya tidak diperkenankan oleh IFRS. Terkait dengan penggabungan usaha dan goodwill yang dihasilkan, jika penggabungan usaha sebelum tanggal transisi tidak dinilai ulang, maka:

  1. Goodwill akibat pembelian kontingen tertentu yang terjadi sebelum tanggal tansisi harus dilakukan penyesuaian;
  2. Setiap aktiva tidak berwujud yang diperoleh tidak berdasarkan IFRS (yang tidak memenuhi syarat sebagai goodwill) harus diklasifikasi ulang;
  3. Uji penurunan nilai harus dilakukan untuk goodwill serta goodwill negatif yang ada harus dikreditkan terhadap ekuitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s